Permasalahan dalam Pendidikan MIPA

By | February 15, 2016

Image result for MIPA

Permasalahan dalam Pendidikan MIPA

Pendidikan sains merupakan pendidikan bidang studi yang di tingkat pra-universitas dapat dibahas secara terpadu yang disebut dengan pendidikan sains terpadu (integrated science teaching), atau yang disajikan secara terdisintegrasi melalui disiplin sains dasarnya, yaitu pendidikan fisika, pendidikan kimia, dan pendidikan biologi (Poedjiadi, 2007:187).

Pembelajaran IPA seringkali hanya menekankan pada aspek produk seperti menghafal konsep, prinsip, atau rumus, tetapi tidak memberikan kesempatan kepada siswa terlibat aktif dalam proses-proses sains. Pembelajaran seperti ini tidak dapat menumbuhkan sikap ilmiah siswa dan tidak dapat melatih keterampilan proses IPA siswa. Padahal salah satu tujuan pembelajaran IPA selain memahami konsepnya siswa juga dituntut untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Berdasarkan tujuan tersebut terlihat bahwa dalam mengajarkan IPA guru diminta untuk mengembangkan fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip IPA, selain itu juga harus mengembangkan berbagai keterampilan proses IPA serta sikap ilmiah para siswa (Wartawan, 2009:164).

Sedangkan jika berbicara tentang matematika, masyarakat seringkali memandangnya secara sempit yakni hanya sebagai aritmetika. Dengan demikian, kurikulum matematika hanya dipandang sebagai kumpulan keterampilan berhitung seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan. Akibatnya, penguasaan dengan baik keterampilan tersebut dipandang sebagai hal yang memadai bagi anak dalam belajar (Suryadi, 2007:170).

Permasalahan dalam penguasaan materi pelajaran matematika merupakan fenomena umum yang terjadi pada kalangan pelajar. Hudjono (2002) dalam Haji (2008:291) membagi masalah dalam matematika menjadi lima bagian, yaitu rutin, non-rutin, rutin terapan, rutin non-terapan, dan non-rutin terapan. Masalah non-rutin terapan merupakan msalah yang penyelesaiannya menuntut perencanaan dengan mengaitkan dunia nyata atau kehidupan sehari-hari dan penyelesaiannya tersebut mungkin saja open-ended. Masalah rutin non-terapan merupakan masalah yang berkaitan murni tentang hubungan matematik, misalnya persamaan ‘bola’ dan pernyataan-pernyataan pada logika yang penyelesaiannya menuntut perencanaan yang mungkin saja hasilnya ‘open-ended’. Guna memecahkan masalah dalam matematika diperlukan suatu strategi. Terdapat empat tahapan dalam proses pemecahan masalah yaitu: memahami, menyusun rencana pemecahan masalah, menjalankan rencana pemecahan masalah, dan meninjau kembali hasil pelaksanaan (Polya, 1968 dalam Haji, 2008:292).

Sementara itu, menurut Soejono, (1983) dalam Asmar, (2008:135-136) kesulitan belajar matematika dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu:

  • Kesulitan umum belajar matematika

Faktor dominan dalam kategori ini adalah adalah faktor fisiologis, faktor intelektual, faktor pedagogik, dan faktor sarana. Pada faktor fisiologis, menurut penelitian Brecker dan Bond dinyatakan adanya hubungan antara faktor fisiologis dan kesulitan belajar. Seperti kurangnya kemampuan mengenal bentuk visual dan memahami sifat keruangan akan mengalami kesulitan dalam belajar pada bahasan geometri. Begitu juga dengan yang lemah pendengarannya akan sukar mendengar penjelasan guru atau siswa lain. Faktor intelektual, seperti kurang daya abstraksi, generalisasi, kemampuan verbal, kemampuan penalaran deduktif maupun induktif serta kemampuan numerik akan mendapat kesulitan dalam belajar matematika. Kekurangan faktor intelektual tidak mampu menguasai pembelajaran yang disajikan, tidak siap menyimpan dan mentransfer pengetahuan untuk memecahkan suatu masalah. Faktor pedagogik, yang paling berperan adalah guru, seperti guru tidak mampu memilih metode mengajar yang cocok, kurangnya perhatian guru terhadap motivasi, pemberian motivasi melaui hukuman, kurang memberikan umpan balik. Selain itu kurangnya perencanaan dalam pemberian tugas juga termasuk dalam faktor pedagogik. Pada faktor sarana, keterbatasan sarana belajar, seperti literatur, alat peraga, ruang dan tempat belajar merupakan yang sensitif sebagai penyebab kesulitan belajar matematika.

  • Kesulitan khusus belajar matematika

Faktor dominan dalam kategori ini adalah pertama, kesulitan dalam menggunakan konsep, seperti setelah siswa belajar suatu konsep, tetapi belum menguasainya yang disebabkan antara lain siswa lupa, ketidakmampuan siswa menyatakan arti atau istilah. Kedua, kesulitan dalam belajar dan menggunakan prinsip. Hal ini dapat dicontohkan seperti, siswa tidak mempunyai konsep yang dapat digunakan untuk mengembangkan prinsip sebagai butir pengetahuan baru. Contoh kesulitan lain adalah siswa miskin dari konsep dasar. Sebagai contoh sederhananya adalah siswa tidak dapat menggambar segi banyak beraturan dan menggambar titik potong diagonal-diagonal tersebut sebagai titik pusta lingkaran. Selain itu, penguasaan prinsip yang kurang jelas juga dapat menjadi faktor kesulitan dalam belajar matematika. Ketiga adalah kesulitan memecahkan soal berbentuk verbal. Keberhasilan memecahkan soal berbentuk verbal tergantung kemampuan pemahaman verbal, yaitu kemampuan memahami soal dalam bentuk cerita dan mampu mengubahnya ke dalam bentuk model matematika.

Kami SolusiTesis.com menerima jasa pembuatan skripsi dan tesis semua jurusan dengan kualitas terbaik, bergaransi sampai lulus, anti plagiat/orisinil dan terjamin. CS : 0877-3911-6555 (Whatsapp/SMS/Tlpn). Pin BBM : 5465F8D0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *