Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

By | February 17, 2016

Image result for pembelajaran di kelas

Pengertian Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Pengajaran dan pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan tenaga kerja (US. Departement of Education the Nasional School-to-Work Office yang dikutip oleh Blanchard, 2001 dalam Trianto, 2009:105).

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (construstivisme), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Riyanto, 2009:165).

Sedangkan menurut Departemen Pendidikan Nasional (2003) dalam Yulianto dan Yulianto (2006:146-147) menjelaskan bahwa pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah strategi belajar yang membantu guru mengaitkan antar materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran yang efektif, yaitu:

  • Konstruktivisme

Filosofi konstruktivisme adalah pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas, dan tidak sekonyong-konyong. Dalam pandangan kontruktivis, “strategi memperoleh” lebih diutamakan dibanding “seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan”. Lima elemen belajar yang kontruktivis meliputi pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, pemerolehan pengetahuan baru, pemahaman pengetahuan, mempraktekkan pengetahuan, dan melakukan refleksi.

  • Inkuiri atau menemukan

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pendekatan kontekstual ini. Pengetahuan dan keterampilan siswa yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat, melainkan hasil dari menemukan sendiri melalui siklus-siklus observasi, bertanya, mengajukan dugaan, mengumpulkan data, dan menyimpulkan. Sedangkan langkah-langkah kegiatan inkuiri meliputi: merumuskan masalah, mengamati, menganalisis, dan mengkomunikasikan hasil karya.

  • Bertanya

Bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Pada semua aktivitas belajar, bertanya dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, guru dengan siswa, dan antara siswa atau guru dengan orang lain yang didatangkan ke kelas tersebut. Dalam pembelajaran produktif, kegiatan bertanya berguna untuk: menggali informasi, mengecek pemahaman siswa, membangkitkan respon kepada siswa, mengetahui sejauhmana ketidaktahuan siswa, mengetahui pengetahuan awal siswa, memberi motivasi siswa, membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan, dan menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

  • Masyarakat belajar

Dalam kelas dengan menggunakan pendekatan kontekstual, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya.

  • Pemodelan

Dalam sebuah pembelajaran selalu ada model yang bisa ditiru. Guru memberi model tentang bagaimana cara belajar. Guru bukan satu-satunya model, siswa maupun orang lain yang didatangkan dapat menjadi model dalam pembelajaran.

  • Refleksi

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa yang lampau. Misalnya belajar dalam kelompok, yang tahu memberi tahu kepada yang belum tahu, yang lambat belajar, belajar dari yang cepat belajar.

  • Penilaian yang sebenarnya

Pembelajaran yang benar seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran. kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melulu hasil, dan dengan berbagai cara. Adapun karakteristik penilaian yang sebenarnya adalah pelaksanaan selama atau setelah proses pembelajaran, bisa untuk formatif dan sumatif, yang diukur keterampilan dan performansi, berkesinambungan, terintegrasi, dan dapat digunakan sebagai feed back.

CTL adalah sebuah sistem yang menyeluruh. CTL terdiri dari bagian-bagian yang saling terhubung. Jika bagian-bagian ini terjalin satu sama lain, maka akan dihasilkan pengaruh yang melebihhi hasil yang diberikan bagian-bagiannya secara terpisah. Bagian-bagian CTL yang terpisah melibatkan proses-proses yang berbeda, yang ketika digunakan secara bersama-sama, memampukan para siswa membuat hubungan yang menghasilkan makna. Setiap bagian CTL yang berbeda-beda ini memberikan sumbangan dalam menolong siswa memahami tugas sekolah. Secara bersama-sama, mereka membentuk suatu sistem yang memungkinkan para siswa melihat makna di dalamnya, dan mengingat materi akademik. Sistem CTL tersebut mencakup delapan komponen, yaitu (a) membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna; (b) melakukan pekerjaan yang berarti; (c) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri; (d) bekerja sama; (e) berpikir kritis dan kreatif; (f) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang; (g) mencapai standar yang tinggi; dan (h) menggunakan penilaian autentik (Johnson, 2007:65-66).

Pembelajaran kontekstual juga dikenal dengan experiental learning, real world education, active learning, dan learned centered instruction. Asumsi pembelajaran tersebut adalah (a) belajar yang baik adalah jika peserta didik terlibat secara pribadi dalam pengalaman belajarnya, (b) pengetahuan harus ditemukan peserta didik sendiri agar mereka memiliki arti atau dapat membuat distingsi berbagai perilaku yang mereka pelajari, (c) peserta didik harus memiliki komitmen terhadap belajar dalam keadaan paling tinggi dan berusaha secara aktif untuk mencapainya dalam kerangka kerja tertentu (Suprijono, 2009:80).

Pembelajaran dan pengajaran kontekstual adalah sebagai salah satu cara mengajar yang didasarkan pada pemikiran, bahwa makna akan muncul dari hubungan antara isi dan konteksnya, karena konteks akan memberikan makna pada isi. Jadi dengan semakin banyak keterkaitan yang ditemukan oleh peserta didik dalam suatu konteks yang luas, maka akan semakin bermakna isi bagi mereka. Dalam hal ini tugas seorang guru adalah menjadikan konteks atau dengan kata lain tugas guru adalah mengarahkan dan membimbing para siswa dalam menemukan sesuatu sehingga lebih bermakna (Hakim, 2008:94).

Pendekatan kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi konteks kehidupan mereka sehari-hari, baik secara pribadi, sosial dan budaya, sehingga siswa memiliki pengetahuan, keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupannya. Menurut Depdiknas (2002) dalam Djaelani (2008:107) menyatakan bahwa pendekatan kontekstual bertujuan untuk membantu siswa memahami makna materi pelajaran yang dipelajari. Pembelajaran kontekstual terjadi apabila siswa dapat menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual yaitu pertama, pembelajaran menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Kedua, pendekatan ini mendorong siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntutut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Ketiga, pendekatan ini mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mwearnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari (Sukaesih, 2007:21).

Keunggulan dan Kelemahan / Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan

Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan. Melalui hubungan di dalam dan di luar kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup (Sahuri, 2009:79).

Kelebihan menggunakan pendekatan kontekstual adalah siswa terlibat aktif dalam pembelajaran melalui kerja kelompok, diskusi yang mengaitkan kehidupan nyata yang merupakan hasil dari perilaku dibangun atas kesadaran sendiri. Bahasa yang diajarkan dengan pendekatan komunikatif sehingga siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis yang pada akhirnya pengetahuan selalu berkembang. Pengalaman diutamakan, oleh karena itu pembelajaran dapat terjadi di berbagai tempat. Pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja dan kelas yang bagaimanapun keadaannya (Tukiman, 2009:102).

Pembelajaran kontekstual akan memberi banyak keuntungan kepada siswa dan guru karena dilakukan secara dua arah. Guru dapat menyerapkan dinamika kehidupan keagamaan, kecerdasan spiritual, dan kesalehan sosial siswa. Sedangkan siswa dapat mengembangkan dan mengaktualisasikan diri dalam pembelajaran (Aziza, 2008:18).

Kelemahan

Selain memiliki banyak kelebihan, pembelajaran kontekstual juga memiliki kekurangan atau kelemahan, diantaranya adalah:

  1. Bagi guru, yaitu guru harus mempunyai kemampuan untuk memahami secara mendalam dan komprehensif mengenai: (1) konsep pembelajaran kontekstual itu sendiri; (2) potensi perbedaan individual siswa kelas di kelas; (3) pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa; dan (4) sarana, media, alat dan kelengkapan pembelajaran yang dapat menunjang aktivitas belajar siswa.
  2. Bagi siswa, yaitu siswa harus mampu menumbuhkan inisiatif dan kreativitas dalam belajar. Selain itu, siswa harus memiliki wawasan pengetahuan yang memadai dari setiap mata pelajaran dan harus memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugasnya, serta adanya perubahan sikap dalam menghadapi persoalan.

Langkah-langkah Pembelajaran CTL

Penerapan CTL dalam kelas cukup mudah, secara garis besar langkahnya sebagai berikut (Riyanto, 2009:170-171):

  1. Kembangkan pikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
  2. Laksanakanlah sejauh mungkin kegiatan inquri untuk semua topik.
  3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
  4. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).
  5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
  6. Lakukan refleksi diakhir pertemuan.
  7. Lakukan penilaian sebenarnya dengan berbagai cara.

SolusiTesis.com menerima jasa pembuatan skripsi dan tesis semua jurusan dengan kualitas terbaik, bergaransi sampai lulus dan anti plagiat. Hubungi CS kami : 0877-3911-6555 (Whatsapp/SMS/Tlpn). Pin BBM : 5465F8D0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *